Cara Mengatur Waktu

11:25 PM

Saya mulai bekerja lagi di kantor baru, baru dua minggu, errr, tepatnya sejak tanggal 5 Februari lalu. Dan belum sebulan, saya sudah diajak lomba lari dengan waktu, dengan pola kerja “mereka”, para orang asing itu. Setiap pagi, saya harus mengisi target pekerjaan yang akan dilakukan, menuliskan estimasi waktu pengerjaannya, on process, dan “done“. Sore hari, saya mengisi lagi sebuah kolom, berapa lama pekerjaan dilakukan, serta deskripsi apa saja yang sudah saya selesaikan.
Stres? Nggak ah. Saya suka. Soalnya ini challenge untuk saya. Saya menganggap hal itu bukan sebagai report atau laporan yang harus saya lakukan kepada atasan saya. Ini tantangan bagi diri saya sendiri, apakah saya mempergunakan waktu saya dengan baik dan bertanggung jawab, atau terlalu santai, banyakan malas dan tak menghasilkan apapun yang berguna. Ini “Kawah Candradimuka” untuk saya, tempat berlatih yang baik untuk Time Management.
Selain bekerja dengan target, saya diceburkan dalam pusaran kemajuan teknologi. Terhubung dengan atasan lewat Thunderbird untuk berkomunikasi via e-mail dan chatting Skype untuk melaporkan perkembangan. Meeting via telpon Skype dengan rekan cantik di ujung sana yang berjarak ribuan kilometer dan 6 jam perbedaan waktu. Saya sudah beres-beres tas hendak pulang ketika dia menyapa via Skype: “Good morning Vivera, how are you today?”. Hey mbak cantik, selamat sore keleus.
Ketika atasan saya pergi ke luar kota, saya pikir dia akan baca e-mail saya besok pagi. Jadi siang ini saya tak usah lihat inbox lah ya, nyantai. Oh no, tiba-tiba dia membalas, di bagian bawah e-mail tertulis: Mr. Z mengirim via Nine. Ternyata dia buat sinkronisasi di ponsel Androidnya, akses ke Thunderbird. Gudlah. Jadi bener itu pepatah: Time is money. Dan setiap pegawai bertanggung jawab kepada pekerjaannya, bukan kepada atasan yang selalu mengawasi. Alhamdulillah. Tambah lagi ilmu Self Management, pengaturan diri, dan pengorganisasian waktu.
Bicara soal pengaturan diri, mau tidak mau memang harus juga bicara soal penggunaan waktu. Ini berat, karena sejujurnya inilah bagian dari disiplin diri yang paling sulit diterapkan. Saya sadar, betapa seringnya saya menunda pekerjaan untuk sesuatu yang lebih tidak penting. Ini masalah prioritas, dan juga soal target yang ingin dicapai. Selama tidak ada target, seseorang akan hidup dengan santai, dan tentunya menjadi tidak perduli dengan pengaturan waktunya. Lha kalau semuanya fine fine saja, kenapa harus pusing menjadi seseorang yang well planned? pasti itu yang muncul di pikiran.
Padahal kalau mau lihat dari sudut kesehatan, katanya, keumuman mereka yang berumur panjang adalah mereka yang dapat mengelola waktunya dengan baik, mereka yang waktu makannya teratur, makanannya diatur, olahraganya teratur, waktu kerjanya diatur, tidurnya teratur. Menjadi sehat, ini ‘kan bisa dijadikan target jangka panjang. Memangnya ada gitu orang yang sehat tanpa pengaturan waktu yang baik? Orang yang pola hidupnya tidak karuan pasti kesehatannya juga morat marit, itu sih konsekuensi logis. Maka mengatur waktu itu sesungguhnya menjadi kebutuhan keseharian.
Masalahnya, mendisiplinkan diri untuk patuh pada pengaturan waktu itu bukan hal yang mudah. Selalu banyak kendala yang kemudian dijadikan alasan untuk melanggar pengaturan waktu yang sudah direncanakan, “Atuda sibuk”, “Atuda tadi harus nganter anak”, “Atuda bangun kesiangan”, dan sejuta atuda lainnya (teman saya, Nancy, menyebut ini sebagai teori “atuda”, satu kata bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia berarti “soalnya…” atau “habisnya…”). Yaaah, namanya juga manusia, selalu mencari-cari alasan untuk tidak melakukan tugas dan kewajiban, dan lebih senang bermalas-malasan.
Baiknya, sebelum mulai mengatur jadwal, telusuri dulu si pencuri waktu, perhatikan dengan seksama selama satu minggu, apa sih yang seringkali mengalihkan perhatian kita dari hal-hal penting yang harus dikerjakan? Tolong ya, diharapkan dengan sangat untuk bersikap jujur dalam hal ini.
Maka di akhir minggu Anda akan temukan bahwa waktu Anda sungguh banyak tersita di depan televisi atau di “arena” jejaring sosial di internet, atau chatting. Betul ‘kan?
Diakui sajalah. Mengaku itu lebih baik kok daripada ngeyel mengatakan bahwa Anda tidak seperti itu, bikin tidur nggak nyaman karena membohongi diri sendiri, heu.
Selama kita belum menemukan si pencuri waktu dan mengakuinya dengan jujur, jangan berharap bisa melangkah lebih jauh untuk pengaturan waktu yang lebih baik.
Mari mengelola diri, yang dimulai dengan pengelolaan waktu yang baik.

You Might Also Like

0 comments