Meng-iya-kan

4:01 AM

Dia adalah satu dari sekian puluh teman saya yang mau mengatakan "iya" ketika orang lain menanyakan atau menyatakan sesuatu yang biasanya tak mau diakui oleh orang-orang lain.
Secara pribadi, saya pernah bertanya padanya mengenai gosip santer tak menyenangkan tentang dirinya. Teman-teman sering bisik-bisik membicarakannya, tapi saya sungguh merasa tak nyaman karena saya tak suka mendengar sesuatu yang tak jelas kebenarannya. Saya terbiasa bertanya langsung pada orangnya ketimbang menggosip di belakang punggungnya. Maka saya memberanikan diri untuk menanyakannya, langsung kepada yang bersangkutan.
Dan dia menjawab dengan tenang: "iya, aku memang begitu". Wow, empat jempol untuknya. Orang yang mau mengakui sesuatu yang menjadi kekurangannya, yang bagi sebagian orang lain adalah sesuatu yang memalukan dan ditutup-tutupi. 
Sebetulnya saya kecewa, karena saya berharap dia tidak seperti yang digosipkan orang. Saya berharap orang-orang itu salah telah menggosipkan dia begini dan begitu, ternyata memang benar demikian adanya. Fiuh.
Lalu dia berkata: "Kenapa? Kamu kecewa? Wajar kok. Gak apa2, diterima saja kekecewaannya, bahwa aku nggak sesempurna yang kamu kira. Aku nggak bisa bohong, gak bisa menjawab "nggak" untuk sesuatu yang memang kulakukan. Aku tahu, bahwa sesungguhnya orang akan terus mendesak sampai aku bilang "iya". Jadi kalau kubilang "iya", orang akan berhenti bicara, akan berhenti mendesak, akan tak tahu harus menggosipkan apa lagi. Sebetulnya, yang diinginkan orang dari suatu gosip adalah kata "iya". Heran aja, sedari dulu gak pernah ada yang bertanya langsung padaku. Padahal kalau ditanya, aku akan jawab seadanya dan tak akan menolak. Hanya kamu yang berani bertanya padaku, dan aku tidak menolak tokh?"
Hmm, inilah dia, manusia yang tidak akan pernah saya lupakan. Manusia yang mau mengakui ketika orang menyebutnya cengeng, ketika dia dibilang norak, dibilang ketinggalan jaman, dibilang kamseu pay, dibilang galau forever, dibilang apapun. Dia, adalah orang yang berani bilang "iya memang, terus kenapa?" daripada menolak dan mengemukakan berbagai alasan.
Dia, adalah orang yang mau mengakui ketidaksempurnaannya sebagai manusia, yang berani menjadi dirinya sendiri meskipun karena hal itu dia jadi ditertawakan orang. Dia tidak perduli orang tertawa, asal dia bisa jujur menjadi dirinya sendiri. Dan terbukti, saya tidak mentertawakannya ketika dia mengakui kekurangannya. Saya malah malu dan terharu, sadar, bahwa ego saya masih sangat tinggi, dan belum bisa berlaku besar hati seperti dia ketika orang menuding.
Saya senang, bahwa saya pernah mengenal seseorang seperti dia, yang mengajari saya untuk bilang "iya", tanpa perlu membantah dan membela diri. 
Katakan "iya", itu saja. Cukup.

You Might Also Like

0 comments