[What's in my bag] Tas saya adalah tas Dora Emon

3:07 AM


Wah, setelah bertahan sekian lama untuk tidak mengeluarkan isi tas dalam bentuk foto, akhirnya harus dihamparkan juga, karena ini bagian dari persyaratan One Day One Post yang sedang diikuti. Selama ini saya berkeras tidak mau memotretnya bukan tanpa alasan. Alasannya jelas, karena sejak dulu saya penggemar berat Dora Emon. Lho kok?
Setahu saya, Dora Emon biru itu punya kantong ajaib. Kalau tangan Dora Emon merogoh ke dalamnya, akan ada satu benda yang bisa menolong menyelesaikan kerewelan Nobita. Memang, Nobita itu rewelnya minta ampun, ada saja yang dimintanya pada Dora Emon, sampai pingin terbang segala, yang kemudian direalisasikan dengan baling-baling bambu.
Nah, bagi saya, makna tas bagi saya serupa kantong Dora Emon, tiap saya butuh sesuatu, mesti ada. Setidaknya segala pernak-pernik kebutuhan saya, ada di situ. Kebayanglah kalau saya mesti jembrengin semua isinya untuk difoto, berderet-deretlah seperti kereta api. Dan itu sebabnya  kenapa saya tak suka tas kecil. Terkadang ingin sih beli tas kecil yang manis gambar Hello Kitty (kebayang kalau saya pake tas Hello Kitty, nggak bingitzlah mbaaaak….), tapi saya nauin diri, tas kecil tak mungkin bisa mengakomodasi “segala rupa” yang ingin saya angkut. Jadinya yaa pengulangan saja terus, setiap ke toko tas, yang dilirik adalah tas besar. Tas kecil silakan berlalu. Kalaupun saya punya tas kecil, itu untuk jalan pagi, supaya nggak ribet, tapi tetap perlu bawa tas. Saya gak suka menaruh uang di saku jaket atau celana, jelek keliatannya, uwel-uwelan dan menggemukkan saku, tidak praktis pula pada saat mengambilnya.
Di bawah ini adalah isi tas saya. Tasnya nggak perlu difoto secara utuh kan? Pokoknya ini tas yang belakangan ini menemani saya ke kantor, model tas yang paling saya sukai karena bagian dalamnya luas. Tas model begini saya beri nama “tas cemplung”, tas yang bisa menampung segala macam, tinggal cemplung-cemplung saja, tutup retsletingnya, beres.
Ada apa saja sih di dalam tas ini?
Sebetulnya hanya ada 2 organizer. Hanya itu kok. 

Di dalam tas saya selalu ada 2 organizer. Itu lho, rumah-rumahan kecil yang banyak lacinya. Tas kecil dengan banyak saku di luar dan di bagian dalamnya. Kedua tas kecil ini sangat menolong saya. Soalnya saya tidak suka kepanikan. Kalau ada ponsel berbunyi, saya tidak nyaman kalau harus mengobrak-abrik keseluruhan isi tas saya untuk menemukan ponsel tersebut, buang waktu, dan keumumannya ponsel ditemukan pada saat sudah berhenti berdering. Sudah habis waktu memberantakkan isi tas, tak terhubung pula. Rugi.

Maka para ponsel saya letakkan di dalam satu organizer warna ungu tua. Di bagian dalam, saya meletakkan tablet tempat saya menyimpan foto-foto untuk diperlihatkan pada klien apabila diperlukan, juga untuk menyimpan file-file bacaan saya kalau ada waktu menunggu yang agak lama. Di bagian luarnya saya letakkan ponsel Android, ini untuk urusan chat dan kontak lainnya. 
Di saku kecil lainnya adalah tempat Nokia E-63 saya bersemayam. Ini ponsel kesayangan saya, masih berfungsi dengan baik sejak saya beli 5 tahun lalu. Kenapa sih masih menggunakan ponsel sejadul itu? Zzz, ini ponsel yang tercipta untuk office. Jadi meskipun jadul, dilengkapi dengan pengolah data word dan keypadnya nyaman sekali untuk menulis. Dibandingkan dengan ponsel masa kini yang touch screen, saya jauh lebih suka mengetik dengan menggunakan ponsel ini. 
Banyak tulisan saya di notes Facebook yang saya tulis (sambil tiduran) dengan menggunakan ponsel ini. Kalau sudah beres, kirim via Bluetooth ke ponsel Android atau tablet, lalu diunggah ke blog atau micro blogging seperti Tumblr. Simpel, tak usah menyentuh laptop.

Soalnya kalau saya gunakan netbook atau laptop, gabisa nulis sambil leyeh2 kan? (pemalas.com).

Di organizer ungu itu juga saya letakkan earphone. Dan ternyata masih ada satu “laci” nganggur. Jadi saya pakai saja untuk menyimpan lipstick dan lipbalm serta mascara dan eyeliner.


Ada apa di organizer ke-2 ?

Organizer ini lebih besar, sakunya lebih banyak. Di sini saya meletakkan buku catatan kecil, pen. Hmm, ketika kebanyakan orang mencatat di ponsel, saya masih menggunakan pen dan buku kecil.  Gapapa juga, supaya tangan tak hanya bergerak untuk mengetik, tapi juga untuk menulis.


Selain buku catatan, ada dompet uang, dompet tempat kartu, charger ponsel, meteran. Hah, meteran? Untuk apa? Saya penggemar kain katun, penggemar kayu bekas peti. Saya gemar menata rumah. Jadi meteran itu berguna untuk ke toko, mengukur panjang rok yang akan dibeli (supaya gak kependekan atau kepanjangan pada saat saya membelikan titipan orang), mengukur panjang, lebar dan tinggi rak di toko supaya pas dengan tempat yang tersedia di rumah. Mengukur apa saja deh yang bisa diukur J
Di salah satu saku, saya letakkan flashdisk, kabel OTG untuk ponsel Android, dan satu kotak kecil bersekat dua, sebelah berisi SD card persediaan kalau SD card di kamera penuh. Sekat yang satunya berisi peniti, jarum pentul, pin jilbab dan cincin kesayangan saya yang jarang saya pakai (ngeliatnya aja udah senang, gak usah dipakai, ada sejarah dan kenangannya sih, heu).


Kalau saya lagi moody, lagi sedih, lagi bete, lagi butuh tempat untuk menyendiri, biasanya selain kedua organizer tadi juga ada tambahan lain: kamera kesayangan dan tongsis. Kamera buat motret sekitar, yang bisa menetralisir perasaan saya. Dan tongsis bukan buat selfie kok, sering saya gunakan buat motret juga, kalau diperlukan memotret dengan posisi kamera atau ponsel lebih tinggi.

Sudah. Itulah isi tas saya. Buat saya sih simpel, tapi buat orang lain mungkin barang bawaan saya terlalu banyak. Ya sih, beda orang beda juga barang yang dibawa.


Eh, jadi pingin tau, isi tas seseorang mencerminkan kepribadian pemiliknya nggak ya?

















You Might Also Like

11 comments

  1. Hihihi... 2 organiser sih tapi begitu dituang isinya ya banyak juga. Mana ada perempuan yang isi tasnya sedikit? Bawaanku juga banyak kok. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, yang penting "tampak" simpel, dan bisa pakai kalimat "cuma dua organizer". Sesungguhnya sih sok simpel, haha.

      Delete
  2. Uwow banyak sekali isinya Eda dan semuanya fungsional pastinya ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu intinya, semuanya yang saya butuhkan, pokona mah kalau bepergian jangan sampai riweuh dan ngariweuhkeun batur karena saya minjem ini itu dari orang lain, heu.

      Delete
    2. Nah itu intinya, semuanya yang saya butuhkan, pokona mah kalau bepergian jangan sampai riweuh dan ngariweuhkeun batur karena saya minjem ini itu dari orang lain, heu.

      Delete
  3. Serius mba, kamera standy-by terus dalam tas?
    Keren atuh euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyalah, hampir selalu, karena dulu sering terjadi penyesalan dan patah hati ketika di perempatan, pas lampu merah yang cukup lama, ada yang harus difoto dan nyadar bahwa saya gak bawa kamera. Kesaaaal. Sejak itu, saya dan kamera seperti Asterix dan Obelix, bersahabat, bareng kemana-mana, wkwkwk.

      Delete
    2. Iyalah, hampir selalu, karena dulu sering terjadi penyesalan dan patah hati ketika di perempatan, pas lampu merah yang cukup lama, ada yang harus difoto dan nyadar bahwa saya gak bawa kamera. Kesaaaal. Sejak itu, saya dan kamera seperti Asterix dan Obelix, bersahabat, bareng kemana-mana, wkwkwk.

      Delete
  4. Kayaknya semua wanita suka tas ukuran besar ya, bisa muat segala benda :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayanya iya. Tas kecil yang hanya untuk fashion, bagi saya sih menuh-menuhin lemari, lebih sering gak dipake, cuma laper mata waktu belinya aja, wkwkwk.

      Delete