THR itu Tabungan Hari Raya

4:33 AM


Lebaran sudah berlalu. Beberapa hari setelah itu, tepatnya hari minggu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan sore sendirian, seperti yang sering saya lakukan. Kali ini ke mall, bukan ke pasar tradisional, bukan pula ke alam bebas, tempat-tempat istimewa yang biasanya saya kunjungi untuk memperkaya hati. Mall itu biasanya pilihan ke sekian kalau "nature" dan "traditional market” sulit dijangkau, atau dengan tujuan membeli sesuatu yang tak saya temukan di tempat selain mall.
Mungkin karena hari minggu, maka Parijs van Java sedemikian riuh. Rata-rata pengunjung adalah remaja, dengan orang tua mereka, atau dengan teman-teman seusia mereka. Jangan tanya di H&M dan Stradivarius, tempat yang biasa saya lintasi dari arah tempat parkir. Dua tempat itu tampaknya memang banyak penggemar.
Karena masih “musim lebaran”, terbersit di benak saya bahwa para remaja itu sedang menghabiskan THR yang mereka peroleh di hari lebaran. THR, yang aslinya Tunjangan Hari Raya, yang diberikan sebagai gaji ke-13 di perusahaan, maknanya sudah berubah menjadi kado lebaran, atau angpaw, yang terjemahan bebasnya dalam Bahasa Sunda (barangkali) adalah “duit kadeudeuh”, uang tanda sayang.
THR yang didapat di hari lebaran dari para tante, om, uwa, bunda, panda, kakek, nenek dan lainnya itu jumlahnya memang bisa cukup banyak. Bagi remaja masa kini, bisalah dipakai untuk ngumpul bersama teman-teman, makan di Richesse, minum kopi di Starbucks, beli sepatu dan kacamata di H&M, beli jeans putih di Stradivarius. Yaaah, yang semacam itulah, pokoknya bukan dibelanjakan di pasar tradisional atau toko non-mall (seperti saya :D).
Saya jadi ingat. Beberapa hari sebelum lebaran, seorang teman di media sosial menuliskan status berupa pertanyaan: “Uang THR biasanya dipakai buat apa sih?”.
Teh Ani Berta menjawab: “Buat menabung”. Saya juga menjawab sama dengan teh Ani, bukan karena saya nyontek sehubungan dia mentor saya di arena blogging lho, karena saya menambahkan: “…soalnya saya nggak mau menghabiskannya untuk lebaran, lalu ikutan ngantri di pegadaian setelah lebaran”.
Ini kenyataan, bukan fiksi belaka. Saya mengenal orang-orang yang menggunakan uang THR mereka untuk belanja habis-habisan. Bahkan bukan hanya uang THR, tapi juga gaji bulanan. Semua dihabiskan untuk belanja belanji yang entah apa. Mungkin baju baru, mungkin ponsel baru, action camera baru, mungkin alat solat baru, motor baru, mobil baru, dan teman-temannya. Saya juga mengenal orang-orang yang setelah lebaran berlalu lantas berucap: “waaah, gak punya duit sama sekali euy, abis banget”. Waaah, kok bisa gitu yaaa?
Kelihatannya cukup banyak orang yang berpikir: gimana nanti ketimbang nanti gimana. Padahal yang berpikir nanti gimana itu bukan penimbun harta atau uang lho, tapi menurut pendapat saya, mereka adalah orang-orang yang cermat, orang-orang yang berpikir hemat. Catatan yang mengherankan, hemat sering disalahartikan dengan pelit. Orang hemat dianggap pelit. Padahal itu dua hal yang berbeda. Orang pelit itu tak mau memberi, sementara orang yang hemat itu cermat berhitung. Orang hemat itu membeli hanya yang diperlukan, sebanyak yang dibutuhkan. 
Lalu bagaimana mengelola uang THR dengan baik (ini tips untuk tahun depan)?. Sebetulnya aturannya sama dengan mengatur uang belanja bulanan atau gaji bulanan. Intinya sama: belilah hanya yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.
Kalau mau berlaku jujur kepada diri sendiri, perhatikan saja, sesungguhnya yang dibutuhkan tidak sebanyak yang diinginkan kok. Makanan yang dibutuhkan biasanya tidak semahal yang diinginkan. Baju, kalau beli sesuai kebutuhan, tak harus selalu ada mereknya (orang-orang tertentu ada lho yang kalau beli baju tuh kalau bisa mereknya besar, di dada atau di bagian pergelangan tangan, supaya kelihatan oleh orang lain, wkwkwk). Bisa saja menjahitkan, atau bahkan menjahit sendiri, sekalian melatih keterampilan tangan. Kalau menjahit kan bisa menggunakan kain tradisional, sekalian memajukan produksi dalam negeri.
Kalau berbelanja sesuai kebutuhan, semestinya tak muncul keluhan kehabisan uang dan harus berhutang kesana-sini setelah merayakan hari kemenangan. Kecuali kalau penghasilan bulanan memang tak cukup untuk hidup, itu sih lain cerita.
Para ibu biasanya adalah manajer keuangan yang baik. Kebanyakan dari mereka sangat piawai mengatur uang agar cukup sampai akhir bulan. Mungkin yang harus dipikirkan adalah bagaimana mengajari anak-anak agar mereka tidak konsumtif, agar bisa memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Ini harus diperjuangkan, sebab jaman sekarang ini orang tua harus menghadapi brand-brand raksasa yang menggurita, yang memikat para remaja dengan slogan: "kalau lo gak pake merek ini, lo gak keren".
Kalau keren menjadi tujuan, maka uang THR pasti tidak akan pernah cukup. Bagaimana mau menyisihkan untuk menabung? Bukan begitu? :) 


You Might Also Like

0 comments