Melanjutkan Jejak Langkah Ayah Dan Bunda

7:14 AM


Ini postingan ke-13 dari One Day One Post Challenge. Tema yang diberikan mendesak saya untuk memutar kembali film berwarna sepia di celah-celah kenangan, mendengarkan lagi proyektor kuno yang berbunyi: "Rrrrr....". Ini seperti mengambil kembali buku harian cantik dan berdebu dari sudut lemari.
Mungkin banyak sumber bacaan yang menganjurkan untuk melakukan berbagai hal baik sehubungan dengan seseorang yang telah wafat, semisal melanjutkan segala amal baiknya, tetap bersilaturahmi dan sebagainya. Tapi saya lebih suka melihatnya dari pengalaman saya ketika kehilangan kedua orang tua saya. Banyak pelajaran berharga dari mereka yang baru saya sadari setelah mereka berpulang, dan selama mereka ada nyaris tidak terperhatikan. Hal-hal yang kemudian saya jadikan “kisi-kisi” untuk melangkahi ruas jalan kehidupan dengan lebih baik.

Ayahanda
Ayah saya berpulang tahun 1990. Apa yang saya ingat tentang beliau?
  • Jadilah "leader". Sepanjang ingatan saya adalah “leader”, pemimpin banget. Mungkin karena beliau merupakan putra tertua dalam keluarga. Namanya juga orang Batak, dimana anak laki-laki pertama itu posisinya sama dengan kakeknya, tanggung jawabnya  besar terhadap adik-adik perempuannya dan juga ibunya. Beliaulah yang mengajarkan tanggung jawab kepada saya, mengajari saya untuk bisa memimpin diri sendiri sebelum berkeinginan untuk memimpin orang lain.
  • Menjadi pendengar yang baik. Ayah saya adalah orang yang sangat demokratis. Setiap kali salah satu anaknya bermasalah, pasti dipanggil untuk membicarakannya di “meja bundar”, meja makan di rumah. Beliau mengatakan apa yang ada di pikiran beliau, dan anaknya diperkenankan untuk mengemukakan pendapat, didengarkan aspirasinya dan bukan hanya dimarahi
  • Menjaga hubungan baik. Ayah saya selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang dikenalnya. Silaturahmi. Senang berkunjung ke rumah orang lain, senang mengundang orang lain untuk makan di rumah. Dengan siapa beliau berteman. Ternyata dari semua kalangan, mulai dari tukang jual tanaman (karena di akhir hayatnya beliau berjualan tanaman hias), sampai almarhum Bob Sadino (karena sama-sama merintis beternak ayam potong untuk dijual) dan owner Setiabudi Supermarket yang jadi tokoh favorit saya itu J
  • Pembelajar dan senang membaca. Setiap hari, tak pernah tidak, saya selalu melihat ayah saya membaca, majalah Tempo atau Reader’s Digest dan Intisari adalah favoritnya, juga harian Kompas. Kalau saya ada kesulitan dan bertanya tentang sesuatu hal, beliau mengajak saya ke rak buku besar di rumah, menarik satu buku tebal Encyclopedia Americana nomer sekian yang berhubungan dengan pertanyaan saya, lalu menterjemahkannya dan menjelaskannya kepada saya, sampai saya mengerti.
  • Merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Tidak berlebihan, membeli dan memakai sesuatu sesuai kebutuhan, bukan karena ingin, tapi karena perlu. Memiliki barang-barang yang fungsional dan berguna.

Ibunda

  • Sangat kreatif. Sampai akhir hayatnya, ibunda mengajari saya (bukan dengan kata-kata, tapi dengan contoh perbuatan) untuk terus berkreasi. Setiap kali saya datang ke rumahnya, selalu saja ada pot cantik di meja makan, atau susunan lemari yang berubah, atau apapun yang unik dan lucu yang tak terpikirkan oleh saya. Ibu saya selalu menggunakan barang-barang yang ada untuk mempercantik rumahnya, tak selalu harus beli baru. Pada hari ulang tahun saya, di usianya yang lebih dari 70 tahun, ibunda memberi saya kado taplak kecil yang disulamnya sendiri. Ibunda yang menjadi modiste di masa mudanya, menerima jahitan, sering membuat kudapan sore di rumah. Pokoknya, kreatif abis :)
  • Tidak banyak bicara. Beliau lebih banyak diam mengamati ketimbang bicara, lebih banyak mendengarkan dan tak pernah memotong pembicaraan orang. 
  • Sabar. Tak pernah mengeluh dalam kesulitan dan kesakitan.
  • Menjaga kerapian dan hidup terorganisir. Ibu saya adalah orang pertama yang mengajari saya untuk hidup tertib dan teratur. Saya sih sadar bahwa saya banyak bandelnya, kadang malas merapikan dan juga melanggar disiplin. Ibu saya? Beliau makan di waktu yang sama setiap harinya, jam 8 pagi sarapan, jam 13.00 makan siang dan jam 19.00 makan malam. Kalau mengirim sesuatu, dibungkus dengan lipatan yang rapi. Beliaulah yang mengajarkan bahwa busana itu yang penting bukan harganya yang mahal, tapi kerapian berbusana, elegan. Hehe, saya ingat, kalau lihat ibunda saat akan bepergian, saya ingat Ratu Elisabeth dari Inggris, kuno dan rapi.

Hmmm, menuliskan deretan kenangan warna kecoklatan ini ternyata membuat saya sadar akan "harta karun" yang ditinggalkan oleh orang tua saya. Yang ditinggalkan oleh mereka bukanlah puluhan rumah mewah berharga milyaran di perumahan mahal, bukan rekening penuh uang di bank luar negeri, tapi ilmu untuk anak-anak mereka, bukan melalui nasihat panjang lebar dan kecerewetan yang meletihkan telinga, tapi dengan contoh perbuatan, yang meninggalkan jejak lebih dalam daripada kata-kata yang diucapkan.

Semoga saya juga bisa berlaku demikian kepada anak-anak saya. Aamiin.

You Might Also Like

5 comments

  1. tulisan tentang orangtua selalu mengharukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaaargh, baca komen ini jadi sedih ingat mami dan papi tercinta ....T_T

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. wah asyik edukasinya. luar biasa

    ReplyDelete
  3. Inspiratif, Kak Vivera. Banyak hal yang bisa diikuti dari kisah bapak dan ibu jenengan. :) Btw, poto-poto IG-nya asik-asik :)

    ReplyDelete