Ruang Berwarna

6:03 PM

Ini ruang bersekat kesukaanku, ruang bernuansa kecoklatan, dimana
semua orang hadir untuk dirinya sendiri, mungkin untuk mencari diri,
dan mungkin juga untuk melupakan diri.
Ini tempat yang membuatku lupa apapun juga, berjam-jam, sampai perih
mata dan nyeri bahu.
Meja-meja rendah, lengkap dengan monitor flat dan keyboard hitam.
Tidak mengkilat seperti di rumah-rumah, tapi bagi sebagian orang tetap
menjadi tempat yang menyenangkan.
Berlibur di pegunungan? Relaksasi di spa? Pantai elok berwarna biru?
Kenapa harus pergi ke sana?
Inilah kemodernan, saatnya berangkat berlibur dengan satu tombol,
seluruh tempat itu sudah di depan mata, dan bisa dilihat. Debur ombak,
jingga mentari senja, bola kuning keemasan muncul dari dalam gelap
saat mentari terbit.
Semuanya ada di sini, di layar monitor 17 inches merk LG.
Ruang ini berbau asap rokok. Sedikit suram, dan aku tak perduli.
Seperti aku tak perduli diriku sendiri, tenggelam dalam kegembiraan
berselancar.
Apa yang kucari disini? Entahlah.
Kukira, ruang bersekat inilah yang paling mengerti diriku, ruang yang
tak pernah ingin tahu terlalu dalam tentang aku, membiarkanku
melakukan apapun yang kumau.
Ini dia, hidupku sedari dulu, putaran waktu yang sama, terus, seperti
roda yang tak henti berputar.
Ah, masih tetap samakah? Tidak. Aku lupa, entah sejak kapan, pemilik
tempat ini telah mengecat dindingnya dengan warna pelangi,
mejikuhibiniu. Warna-warni, sehingga ruang ini tampak lebih cerah. Dan
warna cemerlang memang menularkan perasaan berbeda. Rasa yang ajaib,
yang tak kumengerti, tak tergambarkan dengan kata, yang semestinya
kutanyakan pada Sherina, yang juga tak tahu apa namanya...
--
Sent from my mobile device

You Might Also Like

0 comments