The one and only one

6:23 AM


Aku tak pernah berpikir akan pernah mengenalmu, bahkan tak pernah terbayang akan menyamakan langkah di sampingmu. Hidupku adalah hidup yang itu-itu juga, keseharian yang seperti warna kesukaanmu belakangan ini, warna busana yang kamu kenakan kali terakhir dulu itu, hitam putih.
Hidupku memang black and white, karena sedemikian biasa, dengan jadwal aktifitas yang sesungguhnya sangat tidak aktif. Kamulah yang membuat hidupku jadi berwarna, kamulah yang mengoleskan berbagai nuansa warna lain di atas hitam putih keseharianku. Kamu yang memperkenalkanku pada tawa riang dan tangis pilu lewat cerita-ceritamu yang sarat pengalaman, melalui ceritamu yang tak pernah putus tentang setiap orang yang kamu temui setiap hari.
Ah, setiap kali mendengar gelakmu, awan di langit yang biasanya kulihat kelabu tampak menjadi lebih putih, lebih berkilau terkena cahaya matahari, cantik sekali. Dunia menjadi penuh warna-warni, bunga-bunga merah, putih, ungu dan jingga, dedaunan hijau, batang pohon kecoklatan...
Maka ketika terjaga di pagi hari, saat membuka mata, masih seperti dulu juga, namamu yang pertama kali muncul di benak, menyeruak saat aku belum sepenuhnya sadar.
Aku yakin kamu ingat itu, dan aku tahu sampai detik ini kamu masih berharap terus menerima sapaan pagiku padamu yang membuktikan bahwa namamu yang kusebut setiap kali bangun pagi.
Apakah kerinduan yang tak bertepi itu masih selalu perlu diungkapkan lewat kata-kata? Bukankah seharusnya bisa kamu rasakan perasaanku padamu tanpa perlu kuungkapkan karena kamu sudah mengenalku dengan sangat baik?
Kamu memang selalu tak pernah yakin akan diriku. Kamulah yang selalu gamang dalam melangkah, meski aku terus berupaya membimbing tanganmu yang rapuh dalam genggaman jemariku.
Mestinya kamu tak perlu takut terjatuh, karena sesungguhnya kamu mampu melangkah sendiri. Kamu cuma ragu, sehingga selalu menoleh kepadaku yang mengikuti langkahmu dari belakang. Kamu selalu perlu diyakinkan olehku, dalam hal apapun.

Aku tak pernah berpikir akan kehilangan dirimu, satu-satunya "andaikan..." yang selalu kutepis dari benakku setiap kali muncul. Tak pernah terbayang olehku akan kehilangan waktu kebersamaan yang penuh warna, sapa yang selalu meneduhkan hatiku yang gundah, cerita yang kerap mengantarkanku nyaman istirah di malam hari setelah letih bekerja.
Tak pernah terbayang akan kembali ke hari-hari dua warna, hitam putih, seperti busana yang kamu kenakan dulu itu, saat aku melambaikan tangan padamu, saat aku merasa ingin melompat untuk menyamakan langkah di sampingmu di lorong itu.
Tapi berani membayangkan ataupun tidak, mungkin demikianlah adanya sekarang. Inilah garis hitam putih itu, disaat mana aku ingin merapikan anak-anak rambut di atas telingamu, dan jemariku menghapus lembut bening di sudut matamu (selalu, selalu bening itu meluncur dan membuatku menyesal melihatnya).
Disaat mana aku ingin berbisik, dari dasar hatiku terdalam: kamulah satu-satunya...hanya kamu...

from Marcel to Arletta

You Might Also Like

0 comments