The Elephant Man

5:51 AM

Ini film kuno yang beredar tahun 80-an, berdasarkan kisah nyata tentang seseorang bernama Joseph Merrick (di film tersebut dinamai John Merrick), dibintangi oleh John Hurt dan Anthony Hopkins. Film peraih nominasi 8 Academy Award tahun 1981.
Kisah seorang manusia yang terlahir dengan wajah mengerikan, sedemikian sehingga ia selalu menyembunyikan wajahnya dengan tutup kepala agar tak ada seorang pun melihatnya, sampai pada suatu kali orang melihat wajahnya, ia melarikan diri, tapi ia diburu, dilucuti penutup kepalanya, dan pada saat itulah ia meraung dengan hati terluka "I am not an animal! I am a human being".
Kisah yang menyentuh rasa kemanusiaan, bagi mereka yang masih memiliki perasaan itu di masa kini.
Selalu saja, penampilan dan wajah menjadi penilaian utama orang pada kita. Terkadang tak perduli dan tak mau tahu bahwa hati kita terluka ketika orang menjauh karena kita tak cantik, tak tampan, tak seindah yang ada dalam angan dan khayal.
Rasanya aku seperti si manusia berwajah gajah ketika orang menyebutku gemuk dan menghitam. Lalu dimana masalahnya? apakah aku tak boleh gemuk? apakah dosaku bertambah kalau kulitku berubah menjadi kecoklatan, tak putih cemerlang, tak lagi muda, dan mulai berkerut?
Apakah lantas aku tak pantas disayang dan dibanggakan, tak layak dicinta, dan kehilangan semua yang pantas kumiliki sebagai seorang manusia?
Bukankah tak ada seorang pun yang bisa menolak perubahan fisik karena pertambahan usia? Bukankah setiap manusia pasti menua, pasti berubah "bentuk", tak lagi menarik? Tapi apakah hanya penampilan kasat mata itu yang menjadikan diri kita berharga? Ataukah ada yang lebih dalam dan lebih mahal dari itu, yang tak terbayar dengan operasi plastik yang telah mengabadikan wajah muda para selebritis?
Seorang kawan dekat bahkan ingat, betapa sering aku mengatakan "don't judge a book by its cover", karena penilaian kita seringkali sangat subyektif, karena kita lebih sering melihat "kulit" daripada "isi", seolah-olah kitalah yang terbaik, seakan penampilan kita abadi berhenti di satu waktu seperti mummy Pharaoh di Mesir.
Betapa sering kita memposisikan seseorang di singgasana kesempurnaan, sehingga ketika kita tahu kekurangannya, kita menolak untuk menerima kenyataan, ketika kita lihat dia tak lagi seindah dulu, kita memberinya balsam dan membuatnya menjadi mummy abadi di benak dan hati kita, padahal ratusan kali sudah kita dengar kalimat "tak ada manusia yang sempurna".
Menyedihkan memang....
Seumur hidup pun, kita tidak akan pernah menemukan manusia yang sempurna, dan celakanya, kalau kita terus mencari kesempurnaan, kita akan sering terjatuh karena kecewa bertubi, karena kita menggantungkan harapan terlalu tinggi.
Aku ingat percakapanku dengan sahabatku ketika aku duduk di bangku kuliah dan bercerita padanya bahwa pujaan hatiku tak lagi memakai sepatu Bally-nya untuk datang ke rumahku, tapi hanya mengenakan sepasang sandal jepit murahan, tak seperti saat aku pertama kali mengenalnya. Aku ingat ucapan sahabatku itu: "makanya kalau menilai sesuatu itu jangan partial, tapi harus comprehensive, jangan lihat sendal jepitnya, tapi mengertilah bahwa dia sudah menganggapmu sebagai bagian dari dirinya sehingga dia merasa tak canggung lagi karena dia tahu bahwa kamu akan menerima dirinya, akan mencintainya sebagaimana dia adanya, dengan seluruh kekurangannya...."
Kalau kita menuntut orang yang kita cintai sempurna adanya, coba lihat cermin besar di dinding kamar, apakah kita sudah sempurna?

Aku ingin berteriak seperti the elephant man "I am a human being...."

You Might Also Like

0 comments