Bukan Cinta Biasa

7:44 PM


Siapa bilang dia sudah berubah? Dia masih tetap seperti dulu. Puluhan tahun hidup menyendiri di sudutnya yang pilu, tak mungkin mengubahnya hanya dalam setahun.
Dia melulu hidup dalam kecewa. Dulu dia berprasangka baik, memberikan all out apa yang dimilikinya, dengan sungguh hati melakukan segalanya untuk orang-orang yang dicintainya, dan kecewa karena tak mendapatkan hal yang serupa.
Maka ketika dia memperoleh cinta yang tak biasa (seperti lagu Afgan?), yang kerap menemani, yang jujur, penuh perhatian, baik hati, tanpa prasangka, tak memanfaatkan kemampuannya, dan tulus, dia nyaris tak percaya.
Kerap waswas, dibelenggu kekuatiran, bahwa yang dialaminya hanya impian. Tak mungkin ada manusia sedemikian baik, pasti cepat atau lambat akan datang lagi luka menghujam dari kekecewaan yang sama yang menderanya bertahun-tahun.
Itulah, hatinya selalu dalam situasi siaga satu, takut dan cemas akan ditikam diam-diam dari belakang. Bukan lagi waspada, tapi prasangka yang jadi miliknya kini.
Daripada kelak disakiti, dengan mengeraskan hati (dan diam-diam menangis) dilukainya sendiri hatinya dengan prasangka buruknya yang selalu mengikutinya entah sampai kapan.
Dia tahu dia akan kehilangan cinta putihnya, cinta yang sesungguhnya, tapi ketakutannya akan kehilangan sudah membunuhnya lebih dahulu, sebelum cinta itu pergi meninggalkannya. Trauma sudah mematikan rasanya. Dia sungguh tak yakin akan cinta yang tak biasa….

You Might Also Like

1 comments

  1. hmmmmft, demikianlah....apakah memang ada cinta yang tak biasa? just in my dream.

    ReplyDelete