Sunrise di Sanur, Sunset di Kuta

6:41 AM

Jam 05.00 aku sudah berangkat ke Sanur, mengejar matahari terbit. Masih sangat gelap. Agak bodoh memang, mestinya lebih nyantai, karena ternyata menurut tukang jualan nasi jinggo di pantai, matahari baru akan terbit jam 06.30. Dia bilang aku harus bersyukur, karena beberapa hari sebelumnya orang-orang dari Jakarta berhari-hari menunggu sunrise tidak kunjung tiba karena hujan terus menerus.
Banyak hal yang memang harus disyukuri, banyak sekali. Cuma seperti biasa, aku sering ingat menyebut bismillah ketika akan melakukan sesuatu, tapi jarang ingat untuk mengucapkan alhamdulillah setelah memperoleh sesuatu, apapun bentuknya.
Sore sebelumnya aku mengejar matahari sore ke Tanah Lot, hari sebelumnya di Kuta, juga melihat sunset. Sama indahnya (jujur, untukku sih tidak, aku lebih suka lihat matahari terbit, luar biasa!), sama membuatku ingin melontarkan subhanallah dan ingin menangis.
Ya, ingin menangis, apa sih ciptaanNya yang tidak membuatku ingin menangis? Aku ingat, aku berangkat dari Bandung dini hari, dan pulang ke sana malam hari. Yakin, itu bukan kebetulan, bukan karena hanya ada satu pesawat Bandung-Denpasar. Juga bukan karena kebetulan bahwa aku berdiri di dua pantai yang berbeda, menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari.
Sunrise itu seperti kelahiran manusia, dan sunset adalah usia senja, remang, redup, lalu hitam, hilang dalam ketiadaan.
Aku masih duduk di sana, di atas batu karang besar-besar di pantai Sanur.
Jadi dimana aku sekarang? Ya. Aku berada di antara sunrise dan sunset. Dalam kehidupan yang harus kuisi dengan baik. Sekarang ini saatnya menanami lahan dengan berbagai tanaman bunga yang indah dan pohon buah-buahan, yang kelak mungkin akan aku petik bunga dan buahnya, mungkin juga tidak, barangkali anak-anakku yang akan memetiknya, mungkin juga orang lain. Yang penting memang bukan siapa yang memetiknya, tapi siapa yang menanam.
Tapi gimana yaa, aku ‘kan belum punya lahan? Cari dong sayang, cari lahan yang baik, yang kita kenali jenis tanahnya. Jangan pernah sekalipun menanam di lahan yang tidak kita kenal, apalagi memaksa menanam, kalau anda paksakan, anda akan menuai bonsai (itu yang dia lakukan sekarang, memang, direktur yang aneh!). Tapi bagaimana sih caranya mengenali jenis tanah di lahan yang akan kita tanami? Ya ampuuun, nggak ada cara lain frens, ambil tanahnya dengan tanganmu, biarin tanganmu jadi kotor, lihat baik-baik, amati apakah tanah itu hitam, kemerahan seperti tanah liat, atau berpasir. Setelah itu baru anda akan tahu jenis tanaman apa yang sesuai untuk anda tanam di lahan anda.
Hmm, hidup ini memang harus diisi, dipenuhi seperti air dituangkan ke dalam gelas. Jangan terlalu penuh, nanti airnya tumpah ke meja, dan itu juga tidak baik, pelitur mejanya akan rusak terkena air, nanti repot lagi membersihkannya dan memelitur ulang, harus panggil tukang yang baik untuk mengembalikan warnanya (uwa tersayang, jangan terlalu penuh, sukowati, pasar ubud, dimanapun, jangan terlalu penuh, kuburan kita bukan di Cikadut, please).
Jadi, isi saja gelasmu, tidak harus dengan moccacino atau capucino atau espresso yang secangkirnya 30 ribu rupiah di hotel berbintang, diisi dengan air putih pun baik. Mungkin malah lebih menyehatkan air putih ketimbang minuman-minuman mewah lainnya (Soiree de degustation de vin? Waduh, aku nggak bisa bayangin tuh seperti apa, mungkin acaranya mencicipi berbagai jenis wine sampai mabuk, hwe he he). Dan kalau mengisi gelas dengan air putih, tidak harus aqua kok, bisa saja dengan air sumur yang diambil langsung dari sumbernya, barangkali rasanya sedikit berbeda, bau tanah, tapi siapa tahu mineralnya jauh lebih banyak, seperti air zamzam, gitu.
Yaah, bicara tentang mengisi kehidupan, berarti bicara tentang keseimbangan, kemampuan mengukur diri, kemampuan memperlakukan manusia lain seperti manusia (pauvre LV!), kemampuan belajar dari segala sesuatu yang ada di sekitar. Perlu proses, memang, dan prosesnya terus berlangsung sepanjang kehidupan itu sendiri. Tentu proses pemenuhan diri ini tidak berlaku bagi mereka yang sudah men-shut down computer pribadinya, orang-orang yang sudah menutup laptop-nya dan bahkan menjadi laptop itu sendiri ketika menghadapi manusia lain: cerdas, merasa superior dan selalu merasa paling benar karena berlandaskan pada rasio sehingga tidak lagi memikirkan perasaan orang lain (bisa dimengerti, ‘kan sebagai laptop, dia tidak punya perasaan . . .), orang-orang yang tanpa adanya mereka aku tidak akan pernah menjadi lebih matang dan dewasa, yang bersama mereka aku menjadi lebih bersyukur dengan teman-teman yang kumiliki, orang-orang yang aku takut seperti mereka karena mereka miskin hati. Percaya atau tidak, look, orang-orang seperti itu tidak akan punya banyak teman, apalagi sahabat. Kan katanya agar punya banyak teman, jadilah teman, agar punya sahabat, jadilah sahabat.
Barangkali itu sebabnya menurut Emha ada 4 jenis manusia, manusia wajib,yang mau tidak mau harus ada (seperti nabi?), manusia sunah, yang keberadaannya dirindukan, manusia mubah, yang ada atau tidaknya tidak diperdulikan orang, dan manusia haram, yang ketidakberadaannya dirindukan orang.
Amit-amit, aku tidak mau seperti yang terakhir itu. Anda masuk golongan manakah?

You Might Also Like

0 comments