Mengumpat

6:46 AM

Belakangan ini saya sering mengumpat, sering menggunakan mulut yang semestinya basah oleh untaian doa ini untuk mengutuk, jalur lain yang justru berkebalikan dengan doa. Harus lebih sering mengucap astaghfirullah, mohon ampun pada Tuhan.
Saya tidak bermaksud membela diri, tapi tiba-tiba saya sadar bahwa ada orang-orang yang seringkali mendorong saya untuk mengumpat atau mengeluarkan kata-kata kasar, minimal ngedumel. Ada orang yang kalau bertemu atau berbicara dengannya tidak membuat ilmu saya jadi bertambah, tapi justru menambah vocabulary saya dalam hal memaki. Ketika dia berbalik meninggalkan saya, mulut saya minimal bilang : « Dasar . . . ! », atau « Urus aja sendiri ! », atau « Ya Tuhan, apa dosa sayaaa sampai ketemu orang kaya gini ? ».
Saya jadi penuh perhatian pada orang-orang di sekitar saya, orang-orang yang saya kenal dengan baik atau hanya sekilas saja. Ternyata mengasyikkan juga.
Saya punya teman yang kalau bertemu dengannya membuat saya merasa nyaman meskipun dia tidak bicara apapun, yang kalau mendengar suaranya membuat hati saya teduh. Teman lain lagi sangat menyenangkan diajak diskusi, teman lainnya adalah yang terbaik untuk curhat, yang lainnya lagi adalah teman makan siang diluar kantor. Tapi langka tuh saya berkenalan dengan orang yang terus menerus membuat saya buruk hati dan ingin mengumpat.
Ada sih, dulu, sudah lama, saya harus mengingat-ingat lagi apa yang telah saya lakukan kepadanya supaya saya terbebas dari keburukan hati dan mulut.
Ah ya, saya ingat, saya mengurangi pertemuan dengannya, atau kalaupun bertemu, menghindar untuk berdialog dengan dia, kecuali sangat penting. Selebihnya, no discuss, no dialog, no way. Dan sukses tuh, hanya berhubungan secara profesional saja dengan orang tersebut. Keren!
Iya dong, kadang-kadang hidup ini jangan kelewat pake hati, duri menghadang di depan kita nggak selalu bisa diatasi dengan manajemen hati, sesekali pakai manajemen otak. Artinya kalau orang punya hati, kita jalin hubungan hati, kalau orang tidak punya hati? Nggak usah repot-repot menjadi manusia budiman berhati mulia dengan mencoba meruntuhkan hati orang yang bersangkutan. Kita mah ikut ajalah, orang pakai hati, kita juga, orang pakai otak, kita juga dong.
Tapi ‘kan kita harus tetap berbuat baik kepada orang yang menyakiti hati kita? Ah, sok suci banget sih? Seolah-olah hati kita terbuat dari baja. Kita bukan malaikat, cuma manusia biasa lengkap dengan seluruh keterbatasannya, termasuk keterbatasan kesabaran.
Ya, tapi nanti kita kehilangan teman, kita ‘kan harus menjalin tali silaturahmi dengan siapapun? Waduuuh, menjalin hubungan pertemanan yang berdasarkan hati itu memang baik, tapi pilih-pilih dong dengan siapa. Percayalah, anda tidak akan rugi kehilangan seseorang yang tidak punya hati. Masih ada puluhan teman yang sungguh-sungguh dekat dengan hati anda.
Beradaptasilah dengan baik dengan orang lain. Orang begitu pada kita, kita beri yang sama. Yang menuai juga dia kok, bukan anda. Jangan terlalu sempurnalah jadi manusia, jangan kelewat baik, yang terlalu itu pasti nggak baik. Dari pada anda nelongso mencoba berbaik-baik tapi ditolak terus, malah bikin hati dan mulut anda jadi kotor.
Jangan tanya-tanya terus kenapa begini atau begitu atau kenapa sekarang harus sedikit tegas. Tegas itu diperlukan juga, sesekali, dan itu sah, kalau pada tempatnya.
Sudah, sudah, jangan bawel nanya melulu, nanti saya jadi mengumpat lagi lho, padahal anda ‘kan teman terbaik saya, dari dulu. Buktinya anda selalu mau membaca curahan hati saya via e-mail (ge er dibaca, padahal langsung masuk recycle bin, he he). Saya selalu ingin mempertahankan anda, sebagai sahabat hati saya, serius !Kalau belakangan ini saya sering mengomel dan misuh-misuh, serius, itu bukan kepada anda, bukan. Percayalah!

You Might Also Like

0 comments