Manger bien et juste (Moliere)

7:19 AM

Wah, aku baru tahu bahwa Moliere pernah mengucapkan ini, ketinggalan jaman banget. Kemane aje bow? Aku baru nemuin tulisan ini dan terheran-heran karena sesuai dengan perintah dalam agama islam : makanlah makanan yang halalan thoyibah. Untuk kata pertama semua orang pasti tahu, halal berarti tidak haram. Orang tidak mau makan babi, menghindari alkohol dan minuman keras. Tapi yang sering dilupakan orang adalah bahwa kita bukan hanya harus melihat halal zat-nya, tapi juga cara mendapatkannya. Artinya kalau kita makan spaghetti yang tanpa babi pun, kalau duitnya hasil nyolong atau ngerampok, tetap saja tidak halal. Dan kata guruku, cara yang tidak halal ini yang sering ditekuni, sementara ketidakhalalan zatnya dihindari setengah mati. Naif banget ‘kan? (seperti nama grup musik saja).
Satu kata berikutnya yang jarang dibahas justru menyangkut masalah kesehatan, thoyibah itu artinya baik (sesuai dengan bien et juste dalam kalimat Moliere di atas). Baik itu bukan penampilannya, tapi baik untuk diri kita, artinya sebelum makan semestinyalah kita berpikir apakah makanan itu baik atau tidak, dalam keadaan segar atau sudah setengah busuk, apakah nanti akan mengganggu lingkungan (seperti petai, misalnya) atau tidak, dan terutama apakah efeknya kelak bagi tubuh kita, akan menjadi lemakkah atau menjadi energi yang akan membuat kita dapat bekerja lebih baik dan lebih efisien atau tidak. Jadi sebetulnya untuk memutuskan makanan apa yang akan masuk ke tubuh kita juga kita perlu luangkan sedikit waktu untuk berpikir. Nggak perlu terlalu serius sih sehingga akan membuat kita parno (ini istilah masa kini untuk paranoid yang berarti takut banget dan cemas akan sesuatu) dan menderita malade imaginaire seperti salah seorang rekan saya, tapi minimal tidak seperti iklan sozzis dong “tinggal leeep” begitu tanpa berpikir lebih dulu.
Sebetulnya aku bisa menulis seperti ini juga berdasarkan pengalaman. Sejujurnya, aku menyesal dulu bersikap seperti iklan sozzis itu, segala dimakan tanpa dipikir, dengan pemikiran “tokh aku sehat-sehat saja sampai saat ini”! . Lalu terpesona ketika kadar kolesterol total dalam darah mencapai 280.
Manusia itu ‘kan seperti mesin, ada waktunya organ-organ tubuh menjadi aus karena banyak bekerja, mestinya ketika kondisi baik ya dijaga, bukan diumbar. Mobil juga harus dirawat, diberi oli, diisi bensin, tune-up, spooring, balancing dsb. Lha, apalagi tubuh, yang onderdilnya lebih halus, lebih rentan, lebih sensitif karena asli buatan Sang Maha Pencipta. Lagipula kalau kita ingat bahwa tubuh ini hanya titipan semata, semestinya kita lebih hati-hati memperlakukannya.
Kata orang olahraga itu baik untuk tubuh, tapi kita ‘kan harus tahu diri, menyesuaikan olahraga dengan kebutuhan dan usia kita. 20 tahun lalu okelah! aku ikutan gymnastic high impact, sekarang jangan coba-coba, keseleo penyembuhannya malah lebih repot.
Sayuran itu baik untuk tubuh, katanya. Semua orang menyuruh makan sayuran karena sarat dengan serat dan membuat kenyang lebih lama bagi yang ber-diet. Nanti dulu, sayuran jenis apa yang menyehatkan? Kalau sekarang kita mengidap asam urat tinggi, jangan coba-coba makan lotek atau karedok, or silakan menikmati, dan selamat merasakan ujung kaki berdenyut-denyut sehingga tidak dapat tidur nyenyak.
Waduh, ternyata banyak juga ya yang harus dipelajari? Hal-hal sederhana seperti makan juga ternyata butuh ilmunya tuh, yang ujung-ujungnya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing individu. Aku sih termasuk orang yang tidak mau menyamaratakan semua orang. Kalau ada teman dan rekan sakit di salah satu bagian tubuhnya, terus komentar: “kemarin ya, temanku sakit kaya kamu, mati mendadak lho”. Sumpah, itu namanya nggak sopan, nggak etis, nggak punya manner.
Tiap orang punya daya tahan tubuh dan kesehatan yang berbeda, nggak usah jadi dokter imajiner deh. Kalau mau juga beri dia info yang jelas mengenai penyakit tersebut, dan tunjukkan padanya dokter serta pengobatan yang baik bagi penyakitnya. Catat, dokter yang cocok bagi kita belum tentu cocok bagi orang lain. Kita cuma kasih saran, nggak boleh maksa, apalagi komentar: “si eta mah teu meunang dibejaan!”.
Sebetulnya dalam segala hal (bukan hanya masalah kesehatan), kalau kita nggak ditanya, mendingan nggak usah jadi penasihat, khawatir membuat kerancuan disana-sini karena kita bukannya tahu, tapi sok tahu.
He he, frens, bukankah lebih banyak orang seperti itu?

You Might Also Like

0 comments