Maarraaah

6:48 AM

Kata yang satu ini konotasinya selalu negatif, sepertinya marah merupakan suatu aib, dilarang dilakukan. Orang yang marah berarti orang yang tidak sabar. Dan karena dikonfrontasikan dengan sabar inilah maka marah menjadi sesuatu yang buruk. Orang yang sabar tidak mungkin marah, he he. Akibatnya sabar menjadi identik dengan nrimo dalam bahasa Jawa. Orang yang sabar menerima kenyataan sebagaimana adanya, diusek-usek, diobok-obok, dihina-dina, dijajah, diinjak-injak, hanya tersenyum belaka (waduh, jangan sampai saya berpendapat bahwa sabar identik dengan bodoh, bisa gawat kalau begitu).
Tapi benarkah orang sabar tidak boleh marah? Sekali waktu, guru saya bilang, yang tidak pernah marah hanya unta, karena kabarnya, unta itu hewan yang manis budi, kalau musim qurban tiba, mau disembelih pun dengan solehnya ia menyodorkan lehernya. Artinya, kalau kita tidak pernah marah, kita identik dengan . . .
Begini saja, sebagai muslim, acuan kita semestinya adalah Rasulullah. Pernahkah beliau marah semasa hidupnya? Frens, silahkan membuka kembali sirah nabawiyyah! (awas, jangan tanya apa itu sirah nabawiyyah, saya bisa pingsan kalau yang gini-gini aja nggak tau). Percayalah, rasulullah itu manusia biasa, senormal-normalnya, betul-betul manusiawi. Beliau marah juga, tapi pada waktu dan tempat yang tepat.
So, sebetulnya marah itu oke oke saja kalau memang diperlukan. Lho, diperlukan? Masa kita perlu marah sih?
Iya, meskipun saya bukan psikolog, psikiater ataupun tenaga medis lainnya, semestinya marah juga diperlukan oleh tubuh, entah untuk apa, jangan-jangan dengan marah kita juga mengeluarkan hormon endorfin yang mengasyikkan itu.
Nggaklah, saya tidak akan membahas dari sisi fisik karena memang bukan bidang saya. Saya kan cuma pengamat lingkungan di sekitar diri saya saja, jadi pembahasannya akan sangat sederhana, tidak akan ada hasil penelitian dan dibukukan.
Kita perlu marah kalau orang merampas hak kita, perlu marah kalau harga diri kita diinjak-injak dengan semena-mena, kalau kita dijajah secara moral dan spiritual (apa nih maksudnya? saya sendiri juga nggak ngerti, hanya pingin gaya aja dengan istilah ini), kalau mobil kita ditabrak padahal kita sudah sangat berhati-hati, kalau udah nunggu berjam-jam di ruang tunggu dokter tapi orang lain terus yang masuk karena mereka nyogok, kalau kita dianaktirikan dalam suatu komunitas karena kita lurus-lurus saja sementara orang lain menjilat.
Ya itu tadi, marahlah kalau situasinya memang mengharuskan demikian. Jangan marah teriak-teriak di pinggir jalan karena cewek gebetan direbut orang, jangan marah karena mobil kita disalip orang (oleh mobil lamborghini merah, he he, itu mah sirik namanya), atau ikutan marah-marah karena teman baik kita ditegur orang (solider gitu loh).
Lalu cara kita mengungkapkan kemarahan juga menentukan nilai kemarahan itu. Selayaknya, ungkapkan kemarahan dengan elegan, tidak mengumpat, tidak dengan bahasa kasar. Marahlah dengan baik-baik.
Gimana seh mbak? mana bisa baik kalau lagi marah? Bisa say, bisa, kalau sudah membiasakan diri untuk dapat menguasai emosi.
Kalau mengumpat, berteriak dengan bahasa kebun binatang, percayalah, pesan kemarahannya tidak akan sampai, karena orang yang dimarahi keburu bereaksi mendengar anda membacakan daftar absen kebun binatang dari A sampai Z. Dia malah akan lebih marah dari kita, jadinya berantem, dan itu pasti bego sekali, kecuali kalau anda ingin menjadi selebritis di acara buser.
Yang penting, orang tahu kenapa kita marah, pesannya sampai, dengan harapan ada perbaikan di masa mendatang. Kalau toh tidak juga ada perubahan, biarin, minimal kita jadi tahu bahwa orang itu ndableg. Ya sudah, kalau mau apa-apa, jangan sama dia lagi. Kalau itu teman kita, jangan merasa rugi kehilangan teman model begini, banyak teman lain yang lebih bermutu.
Konon kabarnya tugas kita hanya mengingatkan, hidayah ke dalam hatinya untuk berubah menjadi lebih baik, itu urusan Tuhan.
Sekarang, kepada siapa kita boleh marah? Tergantung waktu dan tempat yang telah ditentukan, he he. Ya kepada siapa sajalah, yang bikin kita dongkol. Kemarin saya pingin marah kepada yang nyuruh fotocopy, udah tujuhpuluhan halaman, ternyata buku yang mestinya difotocopy bukan yang itu (hwa ha ha, kalau saja bukan dia . . . lihat ekspresinya saja sudah pingin ketawa). Saya mengerti, kadang-kadang memang dilematis, mau marah, tapi orang itu atasan kita, misalnya, atau malah direktur utama di perusahaan tempat kita kerja. Nggak papa, direktur juga manusia, bisa bikin kesalahan dan bikin sebal orang lain. Marah saja, ‘kan tadi sudah dibilang, dengan elegan. Itu ‘kan atasan anda, yang anda kenal baik, jadi teknisnya diatur-atur saja sendiri, masa saya harus bikin artikel “tips-tips marah kepada atasan”?
Gitu deh frens, jadi nggak usah ragu lagi untuk marah, itu bukan pertanda ketidaksabaran. Yang penting tidak marah berkelanjutan. Setelah diungkapkan, moga-moga bisa ada solusi. Finished. Buang itu marah dari dalam hati, mari kita tidur dengan tenang, dan mimpi indah. Life is so beautiful, bukankah demikian?

You Might Also Like

0 comments