Di atas langit ada langit

7:13 AM

Hari Minggu jam 6 pagi itu, ketika pesawat terbang yang membawaku dan teman-teman itu lepas landas, mataku basah, makin tinggi, makin mengecil kota Bandung, tetes air meluncur makin banyak dari mataku. Aku merasa dipaksa lepas dari gravitasi bumi. Sedih.
Tuhan, setiap kali aku berjalan ke kantor dan mendongakkan kepala, awan berarak itu kelihatan tinggi sekali. Saat ini, ketika pesawat terbang tinggi menembus awan, ternyata di atasnya masih ada langit biru maha luas yang tiada bertepi. Selalu ada yang lebih tinggi lagi, ada yang lebih besar dan lebih luas lagi.
So, apa sih yang mau aku sombongkan? Aku merasa dihempaskan ke titik nol. Wahai manusia, kau bukan apa-apa, lebih kecil dari sebutir debu. Dan Dia yang Maha Esa itu berkuasa untuk membuat sesuatu terjadi pada kita.
Eh, pernah dengar kisah seorang profesor di Universitas Indonesia, cerdas luarbiasa, yang sekarang ini karena terserang penyakit yang entah apa kehilangan memorinya? Istrinya menceritakan dalam sebuah kisah sejati bahwa ia mulai mengajari lagi suaminya seperti anak kecil, belajar vocabulary, belajar nama-nama benda.
Hm, kita bisa menolak apa kalau tiba-tiba terjadi musibah seperti tsunami tahun yang lalu? Percaya deh, nggak akan mampu, taruhan! Apalagi diberi sakit, diberi kecelakaan, diberi kejeduk jendela. Lihat, diberi jerawat satu saja kita nggak bisa nolak kok?
Frens, malam ini saya menulis ini di warnet dekat Kuta Square, di halaman Melasti Cottage. Suara musik live hingar bingar terdengar dari sebelah. Miris. Takut, ngeri membayangkan aku berada di tengah mereka, lupa diri, lupa waktu shalat, lupa mendekat dan bermanja kepadaNya, ditengah orang-orang yang berhura-hura dan berbuat maksiat lalu terjadi sesuatu yang mengerikan. Siapa yang bisa nolak?
Frens, jadi cari tuh yang namanya Husnul Khatimah, akhir yang baik, jangan berpikir untuk melakukan amal kebaikan nanti saja kalau sudah tua (He he, jadi ingat someone yang berencana untuk "lebih wise" setelah berusia 50 . . .). Mari ah mulai nabung amal dari sekarang, sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan. Kan diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk terus memperbaiki diri, lebih baik, dan lebih baik sehingga ujungnya berakhir dengan baik. Celengan kayu Percikan Iman yang kuisi dengan duit seratus perakan juga udah hampir penuh. Kalau cepek-an dikumpulin ternyata banyak juga tuh.
Yuk ah, kita mulai, kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari . . .
Besok-besok aku kirimin foto-foto yang kuambil dari dalam pesawat. Sumpah, saat ini, di Kuta, aku merasa hatiku mengharu biru.
Bye frens, I miss U all.

You Might Also Like

0 comments