When I Need You

3:50 PM


Dear, waktu aku nulis ini untuk kamu, aku tahu betul bahwa kamu masih tidur. Tapi aku sangat ingin cerita, ingin berbagi pengalaman, kegembiraan, ingin sharing apapun yang aku rasakan. Seperti biasa….

Aku nggak tahu apakah kamu akan baca ini atau nggak, apakah setelah kamu baca, kamu akan mengerti atau nggak. Setelah bertahun-tahun aku menyadari, bahwa pada saat aku membutuhkanmu untuk berbagi, kamu tidak ada di dekatku. Bahwa pada saat aku memerlukan saran dan pendapatmu, kamu malah pergi melakukan kesenangan-kesenanganmu, dan kembali ketika aku sudah terlelap, ketika aku sudah kehilangan keinginan untuk berbagi, ketika aku sudah mencurahkan masalahku dalam impian.

Dulu, aku masih suka sedih karena tidak punya teman berbagi. Sekarang tidak lagi. Aku jadi terbiasa menulis buku harian seperti ini. Dan kamu tahu, itu sebabnya aku begitu mencintai buku harianku, seperti juga kamu tahu, kertas-kertas dalam buku ini kerap jadi keriting oleh airmataku yang menetes satu persatu. Cengeng. Memang.

Aku sudah terbiasa mencurahkan seluruh perasaanku dalam tulisan. Pada akhirnya, yang terpenting untukku adalah bisa bercerita dan berbagi. Solusi dari masalahku, itu sudah tidak lagi penting untukku, biar angin saja yang menyelesaikan, atau waktu, yang selalu dengan penuh kesabaran berputar pelan-pelan. Biasanya memang begitu, yang menyelesaikan memang bukan kamu. Kadang-kadang selesai dengan sendirinya sejalan dengan berlalunya masa, atau diselesaikan secara ajaib oleh-Nya, dengan cara yang tidak terduga.

Kalau aku tidak lagi bercerita kepadamu, bukan berarti aku tidak membutuhkanmu. Kamu tahu, bahwa pada saat sedih dan gembira, ketika susah dan senang, yang kuinginkan ada di dekatku cuma kamu. Tapi kecewa demi kecewa yang kuterima membuatku hanya bisa menyimpannya diam-diam, dengan harapan suatu kali nanti kamu akan mengerti tanpa perlu kuberitahu apa yang kumau dari kamu.

Kamu masih tidur juga, aku tahu. Barangkali kelak, suatu hari nanti, surat ini akan kamu terima juga dan kamu baca, kalau saya jadi mengirimkannya. Kalau saya sudah merasa lebih lega, mungkin saja surat ini tidak akan pernah sampai di tangan kamu, biar diterbangkan angin, ke langit….

Miss you here, really….

You Might Also Like

0 comments