Meranggas

7:42 AM

Anda pernah lihat pohon meranggas? Meranggas, mahluk apa itu? Mohon maaf, saya belum lihat arti kata ini di kamus besar bahasa Indonesia. Tapi sejak duduk di bangku SMA dulu saya sangat gemar kata yang satu ini.
Menurut pengertian saya, pohon meranggas itu pohon yang menggugurkan daun-daunnya. Anda belum pernah melihatnya? Tidak usah jauh-jauh pergi ke Eropa di musim gugur, datang saja ke jalan Hasanudin di Bandung, sebelah rumah sakit Boromeus. Tidak ah, saya alergi menyebut rumah sakit untuk memperlihatkan keindahan. Jalan Hasanudin itu terletak tepat di sebelah kanan Universitas Pajajaran tercinta, memotong jalan Dipati Ukur dan jalan Juanda.
Kalau bulan September tiba, atau bulan-bulan lain dimana lebih banyak angin dan hujan ketimbang cahaya matahari, pohon-pohon angsana sepanjang jalan tersebut menggugurkan daun-daunnya, warnanya kuning keemasan, dan indah sekali dibawah gerimis tipis yang memang sering turun di bulan tersebut.
Sebetulnya bukan hanya di jalan itu sih, di jalan-jalan kecil lainnya yang berpotongan di sekitar kawasan Dago juga begitu, atau malah di sepanjang jalan Cipaganti. Cuma saja karena 20 tahun lalu ketika saya fallin’ in love saya hanya menyusuri jalan itu untuk pulang ke rumah, maka jalan itulah yang saya rekomendasikan kepada anda. Meskipun sudah dua dasawarsa berlalu, suasananya masih begitu kok, baru-baru ini saya lewat sana juga, masih tetap seperti dulu.
Ngomong-ngomong soal meranggas dan daun-daun kuning keemasan yang berguguran, kenapa ya itu terjadi? Kayanya sih karena sudah masanya, ada saat dimana daun-daun tampak subur dan hijau, dan di bulan-bulan tertentu seperti yang saya sebutkan tadi dedaunan itu berubah warna, dan tidak lagi punya kekuatan untuk tetap melekat di dahan, ya sudah, jatuh saja.
(Frens. sorry, saya lagi kurang sehat, jadi bawaannya suka romantis kronis, suka punya pemikiran yang jauuuh menembus awan, sampai-sampai suka diomelin oleh orang sekitar supaya kembali menjejak bumi, mereka kuatir saya tersesat di udara, he he.)
Hidup manusia, saya kira seperti dedaunan itu juga, ada masanya muda, remaja (kalau liat putri saya, suka ingat lagi ketika saya SMP), sehat, dalam kondisi prima, dan ada masa dimana usia bertambah, perhatikan saja sedikit kerut di kulit anda, lihat kantung di sekitar mata anda, lihat warna putih di sela-sela rambut anda yang hitam. Mungkin kondisi tubuh kita tidak lagi sekokoh dulu, mungkin sekarang sudah ada rasa cepat letih, lebih mudah masuk angin dan lebih mudah lebih mudah yang lain, termasuk (kalau saya sih) lebih mudah menangis. Ah, kalau soal cengeng sih dari dulu juga sudah jadi penyakit menahun . . .(nggak papa, mending cengeng daripada jutek ‘kan?).
Suka denger di angkot orang ngobrol: “Ah, ya gitu aja kondisinya, namanya juga orang tua, ada aja penyakitnya”. Jadi, orang tua itu identik dengan pohon meranggas itu tadi, berdaun hijau, lalu mengering kuning keemasan, kemudian lepas dari tangkainya. Yang mesti diperhatikan barangkali adalah warna emas itu, meskipun sudah mengering, warnanya tetap sangat indah. Berkilau, nggak burem dan kumel, dan berkilau itu bukan tampak luar lho, tapi justru bagian dalamnya yang tidak kasat mata. Wuih, jadi ingat lagunya Samson, “Kenangan Terindah”, maunya sih memang dikenang dengan indah oleh orang-orang tercinta, sampai kapanpun.
Aduh, saya jadi kepingin nangis, ingat ayah saya yang sudah tiada Serius, sampai akhir hayatnya, dia memberikan kenangan indah, memberikan pelajaran paling berharga untuk bekal saya melangkah, jiwanya tidak pernah menjadi tua, dan tidak pernah ikut hancur bersama raganya.
Sudah ah, nanti surat elektronik ini lembab karena airmata saya yang bercucuran. Jadi frens, demikianlah. Maka lain kali, kalau terjebak macet di jalan-jalan di Bandung, jangan merasa tertekan. Daripada mengomel karena macet, baiknya luangkan waktu untuk mengamati indahnya daun-daun angsana yang berguguran. Trust me, so beautiful, really.

You Might Also Like

0 comments