Impianku

7:42 AM

Aku hanya ingin duduk di kursi malas di bawah pohon rindang di tepi kolam renang, membaca buku sambil mendengarkan musik dari speaker portable PDA-ku, lagu-lagu lambat yang akan membuatku mengantuk, sementara kedua anakku bermain air di tangga kolam. Si kecil berteriak-teriak memanggil ayahnya untuk mendukungnya di bahu di kolam yang dalam karena dia belum terampil berenang. Adakah yang lebih mahal dari kebahagiaan sederhana seperti itu? Yang harus dibayar mahal memang bukan jumlah uangnya, tapi waktu yang sengaja diluangkan untuk itu.
Mau apa lagi sih hidup ini selain membahagiakan orang-orang yang dicintai? Selagi anda masih bisa membuat mereka tersenyum dengan hal-hal yang bagi anda mungkin sederhana tapi ternyata sangat berarti bagi mereka.
Kerinduan akan suasana seperti itu selalu membuat mataku basah. Selalu . . .

Aku baru saja selesai nonton “Jingle all the way”, cerita seorang ayah yang kerap mengecewakan karena tidak menepati janjinya pada istri dan putranya, dan pada akhirnya secara tidak disengaja menjadi Turbo Man, tokoh yang sangat dikagumi oleh putranya. Itu film fiksi biasa, dan happy ending, tapi indah sekali, sangat menyentuh. Hampir sepanjang film airmataku tumpah. Cengeng. Memang demikianlah adanya aku, mungkin menjadi terlalu sensitif karena pertambahan usia, mungkin juga karena memang pada dasarnya selalu neko-neko dan terlalu dramatis serta romantis kronis dalam menjalani kehidupan yang makin lama makin keras ini. Aku merasa keinginanku akan hal-hal sederhana seperti duduk-duduk mendengarkan lagu sambil minum teh hangat bersama keluarga saja sudah menjadi suatu hal yang sulit direalisasikan, seolah-olah hal-hal manis seperti itu hanya ada dalam angan dan melulu hanya jadi impian. I feel so tired, I don’t know what to do . . .

You Might Also Like

0 comments